World Merit Indonesia Peace Festival: Creating Agent of Peace

World Merit Indonesia adalah representatif dari Indonesia untuk World Merot yang pada mulanya dibentuk oleh enam anak muda Indonesia, yaitu Bayu Sutrisno, Annes Farah Utami, Mega Klau, Natalia Dewi Pratiwi, M. Yulianto Kurniawan, dan Fatiya yang memiliki inisiatif pada bulan Mei 2015 untuk mengumpulkan anak-anak muda di Nusantara untuk bersuara, memberikan ide dan menjadi Agent of Change. World Merit Indonesia sudah tersebar di 11 kota sejak 25 Juli 2015 dari Sumatera hingga Sulawesi, Aceh, Bengkulu, Bandar Lampung, Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta dan Sulawesi Tengah dengan ratusan anggota yang inovatif, kreatif, dan memiliki passion untuk melakukan perubahan positif (dilansir dari: koranyogya.com).

Jumat, 3 Juni 2016, World Merit Indonesia menyelenggarakan The First World Merit Indonesia Peace Festival 2016. Peace Festival berlangsung dari pukul 16.30-21.00 WIB di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, DKI Jakarta dan IYOIN (Indonesia Youth Opportunities in International Networking) menjadi salah satu komunitas yang diundang di acara ini. Peace Festival merupakan acara puncak yang diselenggarakan oleh World Merit Indonesia-Jakarta City Chapter yang ingin melakukan sebuah kegiatan untuk meningkatkan kepedulian pemuda untuk menciptakan perdamaian melalui keberagaman. Representatif IYOIN yang hadir di Peace Festival adalah Firza (Executive Director IYOIN LC Bogor), Rifda (Staff Project IYOIN LC Bogor), Fathah (Staff Public Relation IYOIN LC Bogor), Annisa (Staff Project IYOIN LC Jakarta), Dwi Oktaviani (Manager Public Relation IYOIN LC Tangerang) dan Irfan (Staff Public Relation IYOIN LC Serang).

WMI

SanG WeeLee (Kiri) menjelaskan filosofi dari tarian yang dipentaskan

Ketika kami datang, sedang berlangsung Cultural Art Performance tari tradisional dari Cianjur yang dipentaskan oleh SanG WeeLee. Sang penari, SanG WeeLee, menceritakan arti dari tarian tersebut. Tarian ini menggambarkan sisi baik dan sisi buruk dari manusia. Keduanya mendukung cara hidup manusia di masyarakat dan bagaimana manusia itu dapat mempengaruhi kehidupan. Manusia itu memang dilahirkan berbeda-beda dan how human addresses those differences is what matters the most. Perbedaan itu bukan digunakan untuk menciptakan konflik, perbedaan itu dijaga untuk mencapai keharmonisan.

wmi 2

Tylla Subijantoro (Tengah) ketika bersalaman dengan Shintya Rahmi Utami (Kiri)

Setelah Cultural Art Performance, acara dilanjutkan dengan Talkshow dengan dua pembicara bergengsi dan berpengalaman dalam menjaga dan menciptakan perdamaian di beberapa daerah. Pembicara pertama adalah Tylla Subijantoro, Former Governance Advisor – United Nations DPKO. Tylla Subijantoro berbagi pengalamannya dalam perjuangannya menjaga perdamaian di Timor Leste pada tahun 2009-2011. Tylla Subijantoro merupakan satu-satunya warga sipil Indonesia yang ditugaskan untuk mengontrol keadaan di Timor Leste pada saat itu. Tylla Subijantoro memaparkan betapa hebatnya Timor Leste yang memiliki berbagai macam budaya yang berbeda-beda mampu mempertahankan perbedaannya tersebut tanpa menimbulkan konflik, serta bagaimana Timor Leste memaafkan Indonesia atas kesalahan yang terjadi di masa lampau ketika Timor Leste memutuskan memisahkan diri dari Indonesia. Tylla Subijantoro mengemukakan bagaimana Timor Leste tetap memelihara adat dan ilmu yang mereka dapat dari guru-guru Indonesia tentang menerima perbedaan, tentang toleransi, dan tentang keinginan untuk bersatu. Timor Leste merupakan negara yang menjunjung tinggi perdamaian dan bagaimana perdamaian tersebut dapat membangun negara mereka. Tylla Subijantoro menceritakan bagaimana pemerintah rela datang langsung ketika terjadi perdebatan atau konflik antar pihak. Pemerintah rela mendengarkan adu pendapat antar pihak hingga didapatkan jalan tengah. Tylla Subijantoro menyatakan rasa senangnya bahwa Timor Leste ternyata mampu berkembang dengan baik dan mampu berdiri sendiri setelah PBB melepas pengawasannya di tahun 2012. Menurut Tylla Subijantoro, prinsip Timor Leste yang fokus pada apa yang penting untuk membangun negara mereka tanpa mempermasalahkan perbedaan yang ada di negara mereka dan fokus pada apa yang akan terjadi di masa depan dibandingkan mempermasalahkan apa yang terjadi di masa lalu yang membuat negara mereka berkembang baik tanpa terjadi konflik besar.

“Kalau gak ada perdamaian, bagaimana kita bisa hidup, gitu? I mean like, bayangkan ketika kalian pergi sekolah, ketika dunia tidak damai, kalian takut akan diculik di perjalanan menuju sekolah. Kita gak bisa apa-apa kalau dunia tidak damai. Maka ciptakanlah kedamaian. Pemuda seperti kalian lah yang bisa menciptakan perdamaian” –Tylla Subijantoro-

WMI 1

Shintya Rahmi Utami (Kiri) memperkenalkan Global Peace Foundation

Talkshow dilanjutkan dengan perkenalan Global Peace Foundation oleh Shintya Rahmi Utami. Global Peace Foundation terbentuk karena tingkat potensi pemuda di Asia untuk menciptakan perdamaian yang tinggi. Sebesar 26% pemuda di Asia memiliki potensi untuk menciptakan perdamaian di dunia. Global Peace Foundation terbentuk dengan tujuan untuk membangun kesadaran tentang perdamaian, memberikan penjelasan tentang pentingnya perdamaian, memberikan penjelasan pentingnya peran pemuda dalam menciptakan perdamaian, dan menjadikan pemuda di garda terdepan untuk memimpin perdamaian. Global Peace Foundation berfokus pada bidang Education, Youth Empowerment, dan Community Development. Global Peace Foundation menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan berkeinginan untuk menanamkan nilai-nilai kekeluargaan tersebut di diri pemuda. Global Peace Foundation memiliki misi “Creating global networking in maintain peace”. Menurut Shintya Rahmi Utami, misi ini berkembang dari pemikiran bagaimana pemuda dapat menjalin hubungan dengan pemuda lain sehingga perdamaian dapat terjaga dan dapat tercipta.

“Kita satu keluarga yang berketuhanan tanpa memandang ras dan latar belakang. Semua berawal dari kesadaran bahwa kita semua bersaudara” –Shintya Rahmi Utami-

WMI 3

Lizfa (Kiri) memperkenalkan Sekolah Kopaja

Acara Talkshow dilanjutkan dengan perkenalan Sekolah Kopaja oleh Lizfa selaku  inisiator Sekolah Kopaja. Lizfa menceritakan pengalamannya dalam membangun Sekolah Kopaja yang telah dibentuk sejak tahun 2012. Sekolah Kopaja ini terbentuk karena pemikiran Lizfa untuk membuat perubahan di lingkungannya. Lizfa memperhatikan ketidakmampuan anak-anak jalanan untuk menempuh pendidikan dan ingin berbuat sesuatu untuk hal tersebut. Atas dasar pemikiran ini, Lizfa dengan beberapa temannya membentuk Sekolah Kopaja. Sekolah Kopaja dibentuk dengan tujuan memberikan ilmu dan meningkatkan kesadaran pentingnya pendidikan bagi anak-anak jalanan yang tidak mampu bersekolah. Sekolah Kopaja memberikan pembelajaran tentang berbagai hal dengan cara yang menarik, seperti fieldtrip, untuk meningkatkan keinginan anak-anak untuk belajar. Pada awalnya, Sekolah Kopaja bermarkas di belakang Mall Gandaria City dengan jumlah anak ajar mencapai 200 anak. Namun, pada tahun 2015 terjadi kebakaran yang menghabiskan markas Sekolah Kopaja ini. Tragedi ini menyebabkan anak-anak ajar terpisah dan terpencar sehingga hanya tersisa 100 anak ajar. Namun, tragedi tersebut tidak menurunkan semangat anak-anak untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Hingga saat ini, sudah banyak anak ajar Sekolah Kopaja yang mengikuti ujian Paket C untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kegiatan Sekolah Kopaja terfokus pada pemberian pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu dan pemberian motivasi bagi anak-anak yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan.

“Saya percaya anak-anak Indonesia itu kreatif. Ada baiknya ketika usia masih muda dan masih memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang, coba alihkan sedikit waktu bersenang-senang itu untuk melakukan hal positif, untuk menyalurkan kreativitas, dan untuk membuat suatu perubahan yang dapat mensejahterakan kehidupan orang-orang di sekitar kita” –Lizfa-

WMI 4

Anak ajar Sekolah Kopaja menyanyikan lagu Laskar Pelangi

Selanjutnya, Lizfa memperkenalkan beberapa anak ajar yang datang ke Peace Festival malam kemarin. Ketika ditanya motivasi mereka mengikuti Sekolah Kopaja, Dito (ketiga dari kanan) menyatakan ia ingin menjadi pintar. Teman lainnya menyatakan ingin mendapat ilmu. Keterbatasan anak-anak ini tidak menurunkan motivasi dan keinginan mereka untuk mendapat ilmu, meskipun bukan dari sekolah. Selain belajar di Sekolah Kopaja, anak-anak ini juga bekerja sebagai penjual tisu atau penjual asongan, dan pengamen. Dalam acara Peace Festival, anak-anak ini berkesempatan mempersembahkan lagu Laskar Pelangi dan 2 lagu lainnya. Tetap semangat adik-adik kecil!

wmi7

Peacecapella di acara Peace Festival 2016

Acara Peace Festival ditutup dengan penampilan Acapella oleh Peacecapella. Peacecapella adalah komunitas yang beranggotakan 6 orang yang ingin menyebarkan nilai-nilai perdamaian melalui acapella. Anggotanya berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat. Di akhir acara ini, Peacecapella membawakan dua lagi yang berjudul Salam dan Kasih Putih.

“Berdamailah dengan diri sendiri. Karena jika kita tidak berdamai dengan diri sendiri, bagaiman kita mau berdamai dengan orang lain?” –Peacecapella-

WMI 5 WMI 6

Terakhir! Photo session dengan seluruh peserta, panitia, presenter, moderator, pembicara, dan performers menutupi rangkaian acara The First World Merit Indonesia Peace Festival 2016. Terima kasih World Merit Indonesia telah menyelenggarakan acara hebat ini. Semoga acara ini bermanfaat bagi pemuda Indonesia dan semoga dapat menginisiasi pergerakan pemuda Indonesia untuk menciptakan perdamaian. Salam, IYOIN! SHARE AND SYNERGIZE! (Firza, 4/6)

Tagged with:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *